Bab
V
MANUSIA
DAN PENDERITAAN
1. Makna
penderitaan
Penderitaan dari kata
derita. Kata derita berasal dari kata bahasa sansekerta dhra artinya menahan
atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak
menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin. Yang
termasuk penderitaa itu antara lain keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan,
kekeyangan, kepansan dan lain-lain
Baik dalam Al-qur’an
maupun kitab suci agama lain banyak surat dan ayat yang menguraikan tentang penderitaan
yang dialami manusia itu sebagai peringatan bagi manusia akan adanya
penderitaan. Tetapi umumnya manusia itu kurang memperhatikan peringatan
tersebut, sehigga manusia mengalami penderitaan
Hal itu, misalnya dalam
surat Al-Balad ayat 4 dinyatakan “manusia ialah makhluk yang hidupnya penuh
perjuangan”. Ayat tersebut diartikan, bahwa manusia bekerja keras untuk dapat
melangsungkan hidupnya. Untuk kelangsungan hidup ini manusaia harus menghadapi
alam (menaklukan alam, menghadapi masyarakat sekelilingnya, dan tidak boleh
lupa takwa kepada tuhan. Apabila manusia melalaikan salah satu dari pada-Nya,
atau kurang sungguh-sungguh menghadapinya,
maka akibatknya manusia akan menderita. Bila manusia itu sudah
berkeluarga, maka penderitaan juga dialami oleh keluarganya. Penderitaan
semacam itu ada dalam kehidupan sehari-hari. Baik di kota-kota maupun di desa,
bila orang malas bekerja tentu ia akan menderita hidupnya.
2. Makna
siksaan
Berbicara
tentang siksaan, maka terbayang pada ingatan kita tentang neraka dan dosa, dan
akhirnya firman tuhan dalam kitab suci Al-qurnaa. Seperti kita maklumi di dalam
kitab suci Al-quran terdapatbanyak sekali surat dan ayat yang membicarakan
tentang siksaan ini.
Macam siksaan dan bentuk siksaan bertebaran antara 69 buah dari
surat Al-Ankabut, anatara lain ayat 40 yang menyatakan :
“masing-masing bangsa itu kami siksa dengan ancaman siksaan,
karena dosa-dosanya. Ada di anataranya kami hujani dengan batu-batu kecil
seperti kaum Aad, ada yang diganyang dengan halilintar bergemuruh dahsyat
seperti kaum Tsamud, ada pula yang kami benamkan ke dalam tanah seperti Qarun,
da nada pula yang kami tenggelamkan seperti kaum Nuh. Dengan siksaan-siksaan
itu, allah tidak menganiaya mereka, namun mereka jualah yang menganiaya diri
sendiri, karena dosa-dosanya.”
Dalam Al-quraan surat-surat lain banyak berisi jenis dan
ancaman siksaan bagi orang-orang musyrik,syirik, makan riba, dengki, memfitnah,
mencuri, makan harta anak yatim, dan sebagainya. Namun siksaan yang dialami
manusia setelah di dunia fana ini tidak akan dibicarakan oleh penulis dalam
modul ini, karena itu tugas para ahli agama. Penulis hanya membicarakan siksaan
yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari
3. Makna
rasa sakit
Rasa
sakit adalah rasa yang tidak enak bagi si penderita. Rasa sakit akibta
menderita penyakit, atau sakit. Sakit perut akibatnya terasa sakit perutnya.
Sakit gigi akibatnya terasa nyeri (sakit). Sakit hati akibatnya hatinya terasa
sakit. Sakit cinta akibatnya hati selalu dirundung rasa ingin ketemu orang yang
dicintainya, dan sebagainya.
Penyakit
atau sakit sehingga ada rasa sakit, dapat menimpa setiap manusia hidup. Kaya
miskin, besaar kecil, tua-muda, berpangkat atau rendahan tak dapat
menghindarkan diri, bila telah tertimpa, orang bodoh atau orang pintar, bahkan
dokter sekalipun kalau sudah menderita sakit tak sanggup menghindarinya
Rasa
sakit atau penyakit tak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Menderita
sakit tak dapat direncanakan, kalau ddatang, datang juga, sedang manusia hanya
dapat berikhtiar menyembuhkan atau sekurang-kurangnya mengurangi rsa sakit
Penderitaan,
rasa sakit, dan siksaan merupakan rangkaiann peristiwa yang satu dengan lainnya
tak dapat dipisahkan, merupakan rentetan sebab akibatnnya
Karena
siksaan, orang merasakan sakit, dank arena merasakan sakit orang menderita.
Atau sebaliknya, karena penyakit tak sembuh-sembuh ia merasakan tersiksa
hidupnya, dan penderitaanlah yang di alaminya siksaan merupakan rangkaian
peristiwa yang satu dengan yang lainnya tak dapat dipisahkan merupakan rentetan
sebab akibat
4. Neraka
Berbicara
tentang neraka, maka lazimnya kita tentu ingat kepada dosa. Juga terbayang
dalam ingatan kita yang luar biasa. Tergambar pula dalam ingatan kita suatu rsa
sakit dan penderitaan hebat.
Jelaslah
bahwa anatar neraka, siksaa, rasa sakit, dan prnderitaan terdapat hubungan dan
tak dapat di pisahkan satu sama lain. Empat hal itu merupakan rangkaian sebab
akibat
Manusia
masuk neraka karena dosa. Oleh karena itu, bila kita bicara tentang neraka
tentu berkaitan dengan dosa. Berbicara tentang dosa berarti juga berbicara
tentang kesalahan.
Dalam
Al-quraan banyak surat yang berisi tentang siksaan di nerka, atau ancaman
siksaan. Surat-surat itu antara lain surat AL-fath ayat 6 yang berbunyi:
“Dan
supaya dia menyiksa orang-orang yang munafik laki-laki dan perempuan,
orang-orang yang musyrik laki-laki dan perempuan yang mempunyai prasangka jahat
terhadap allah. Mereka mendapat giliran buruk. Allah memurkai mereka, dan
menyediakan nereka jahanam baginya. Dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk
tempat kembali.
5. Beberapa
kasus penderitaan
Kata
penderitaan berasal dari kata derita. Menurut suyadi derita berasal dari bahasa
sanskerta “dhra” yang berarti menahan atau menanggung (suyadi, 1985). Kata ini
dapat pula diberi makna merasakan. Dengan demikian kata penderitaan berarti
sesuatu yang ditanggung, di tahan, atau dirasakan. Sesuatu yang ditanggung atau
dirsakan itu biasanya selalu dihubungkan dengan hal-hal yang tidak
menyenagkan,misalnya kelapara, kemiskinan, penyakit, kegagalan, kegelisahan,
dan ketakutan. Hal-hal yang menyenangkan, menggembirakan, atau memuaskan yang
dirasakan oleh seseorang tidak pernah dikatakan sebagai suatu penderitaan.
Penderitaan eart sekali hubungannya dengan hidup manusia
bahkan dapat berfungsi sebagai dinamisator kehidupan manusia.menurut salah satu
ajaran (dharma) sri buddha yang dikenal dengan sebutan satvari aryasatyani
dikatakan bahwa sifat utama hidup manusia ialah penderitaan, karena manusia
harus mejalani rantai kehidupan: lahir, tumbuuh, menjadi tua, sakit, mati, dan
selanjutnya lahir kembali di dalam kehidupan harus mengalami perceraian dengan
yang dicintai, pergaulan dengan yang dibenci, dan sebagainya. Dikatakan selanjutnya
bahwa penderitaan disebabkan karena nafsu hidup : bahwa penderitaan itu dapat
dihapuskan: dan selanjutnya ditunjukan cara untuk menghapuskan atau memperkecil
penderitaan
6. Sumber
penderitaan
·
Hakikat manusia
Manusia
pada hakikatnya adalah makhluk hidup yang memilih keprbadiian yang tersusun
dari perpaduan dan saling hubungan dan pengaruh mempengaruhi anatar unsur-unsur
jasmani, dan rohani, dan karena itu penderitaan dapat pula terjadi pada tingkat
jasmani maupun rohani
Jasmani disebut juga sebagai tubuh, badan,
badan wadaq, jasad, materi, wadah, atau unsur konkrit dari pada pribadi. Jasmani
merupakan unsur yang hidup pada pribadi manusia. Di dalam jasmani manusia ada
dua unsur-unsur yang selalu berhubungan. Yaitu otak dan panca indera. Di dalam
otak ada berbagai pusat kemampuan manusia. Panca indera merupakan alat atau
jendela atau pintu tubuh manusia sehingga manusia mampu menerima atau menangkap
segala sesuatu yang berada di lingkungannya
Rohani, sering disebut dengan istilah lain
seperti misalnya jiwa, badan halus, dan mind merupakan unsur yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Dalam
kehidupan sehari-hari rohani menjiwai, mendasari, dan memimpin unsur-unsur
pribadi manusia. Rohani memliki alat dan kemampuan. Alat dan kemampuan itu
adalah:
(1) Nafsu
(2) perasaan, (3) pikiran (4) kemauan. Dalam rangak pembicaraan mengenai
penderiaan ini akan dibahas sedikit mendasar tantang nafsu
·
Dorongan memenuhi kebutuhan sebagai
sumber penderitaan
Untuk mempertahankan
keberadaan serta kehidupannya, manusia dituntut untuk memenuhi kebutuhannya
baik kebutuhan fisik, psikis maupun kebutuhan sosial. Didalm usaha memenuhi
kebutuhan ini naafsu memegang peranan penting. Nafsu atau dorongan ini
cenderung untuk menuntut dipenuhinya kepuasan akan keinginan. Dalam usaha
memenuhi dorongan atau nafsu ini manusia menggunakan daya kehendak dan akal
budi serta perasaan yang dimilikinya untuk memilih dan mempertimbangkan jalan
untuk mencapai obyek yang dituju. Kehendak dan akal budi mempertimbangkan jalan
dan materi yang merangsang manusia untuk direalisasi dalam bentuk perbuatan
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan ini mungkin saja terjadi bahwa
tujuan, ialah sesuatu yang dibutuhkan dan yang diingini, dapat tercapai sesuatu
dengan yang dikehendaki. Tetapi mungkin pula sesuatu yang diinginii itu tidak
tercapai. Jika tujuan yang diingini itu tercapai maka yang didapat atau
dirasakan adalah kepuasan, kegemberiaan, atau kesenangan. Jika sebaliknya yang
terjadi, maka yang didapt adalah penyesalan, kesedihan, atau penderitaaan
7. Upaya
menghindari diri dari penderitaan
Dari
kasus aminah dan kasus putri tersebut di atas kita dapat menarik kesimpulan
bahwa response emosional, yang ditampilkan oleh setisp orang dalam merespon
penderitaan yang kurang lebih sama adalah sama. Aminah tidak mampu mengatasi
penderitaan sehingga mengalami frustasi, sedang putri mampu mengatasinya dengan
cara melarikan diri dari situasi yang dapat mencetuskan berkemmbangnya
penderitaan yang dirasakan. Yang menjadi persoalan sekarang ialah mengapa orang
memiliki kemampuan yang berbeda?
Menurut
hujibers (1986) hidup obyektif mempunyai peranan penting dalam menentukan
tujuan hidup, dalam mengejarnya, dalam menghayati. Hidup efektif atau perasaan
justru menjadi motor yang kuat untuk mengembangkan suatu hidup yang sesuai
dengan tujuan hidup. Selanjutnya perasaan itu menjadi bagian suatu situasi
hidup yang telah di capai. Perkembangan hidup manusia terjalin dengan eratnya
dengan hidup emosionalnya. Bila hidup emosionalnya baik, kemungkinan besar
hidupnya sebagai keseluruhan akan baik juga.
Apa
sebabnya di antara dua orang yang menghadapi masalah yang kurang lebih sama
yang seorang tetap sehat sedang yang seorang lagi jatuh sakit ? menurut tandau,
pada umunya para ahli berpendapat bahwa individu yang jatuh sakit, karena di
dalam diri individu yang bersangkutan ada sesuatu factor yang menyebabkan
sesorang itu lebih terdorang kearah keadaan sakit. Faktor itu ialah (a) keadaan
fisik individu yang dibentuk selama pertumbuhan fisiknya, dan (b) factor-faktor
yang terletak di dalam kepribadian, tertentu yang bersifat pengalaman selama
perkembangan mentalnya
Perilaku
manusia untuk sebagaian besar merupakan pancaran perilaku yang telah dipelajari
sebelumnya. Oleh karena itu perilaku manusia tidak pernah beku, dapat selalu
berubah, dan dapat berbeda-beda dari satu individu ke individu yang lain dan
dari satu saat ke saat yang lain. Dalam proses pembentukan kepribadian ini factor
enkulturasi dan sosialisasi memegang peranan yang penting. Mansia sejak lahir
harus mempelajari cara-cara bagaimana supaya ia dapat mengatasi pelbagai soal
yang di hadapinya
DAFTAR PUSTAKA
1. Hoegiono,
Drs., dkk., ilmu budaya dasar dan
PKLH, IKIP Semarang Press, Semarang, 1990
2. Suyadi,
M.P., Drs. Buku materi Pokok ilmu budaya dasar, Universitas Terbuka,
Jakarta, 1985
3. Hartono,
Drs., dkk., ilmu budaya dasar, CV.
Pelangi, Surabaya, 1986
4. Syamsurizal,
ilmu budaya dasar, Nur Cahaya,
Yogyakarta, 1987.
Komentar
Posting Komentar