Bab
11
Manusia
dan Harapan
1. Berbagai contoh dalam kehidupan
Beberapa ilustrasi mengenai penderitaan yang
sekaligus disertai dengan harapan untuk bebas dari penderitaan, adalah sebagai
berikut:
A. Penderitaan yang dialami oleh seorang ibu yang
sudah saatnya bersalin. Rasa sakit yang dialami sering dilukiskan oleh ibu
sebagai seribu rasa sakit berpadu dalam satu saat. Pada saat itu, yang
diharapkan oleh ibu adalah kelahiran anaknya, laki-laki/perempuan, dalam
keadaan hidup dan sehat, dapat melengking tangis yang kuat selanjutnya, ibu itu
berharap agara ia dapat mendekapkan anaknya yang baru lahir di dada sebelah
kirinya, disusuinya, ditempelkan di dadanya supaya degup jantung ibunya
didengarkan oleh anaknya, demikianlah harapan ibunda terhadap anaknya dengan
penuh kasih dan sayang.
B.
Penderitaan yang dialami oleh orang yang sakit. Ia pergi berobat ke
dokter/kepada orang yang dianggapnya dapat mengobatinya, dengan harapan agar ia
dapat pulih kesehatannya dan dapat hidup wajar sebagai mana layaknya anggota
masyarakat yang lain.
C.
Penderitaan para pejuang kemerdekaan. Dengan menerjunkan diri ke kancah
pejuang untuk merebut kemerdekaan, sebenarnya pejuang itu “menjerumuskan diri”
ke dalam penderitaan.
D. Penderitaan yang dialami oleh pelajar/mahasiswa.
Pelajar dan mahasiswa sebenarnya adalah orang yang mau dan bersediahidup
menderita. Meskipun demikian, di balik penderitaan itu mereka mempunyai harapan
untuk dapat menempuh hidup di dunia dengan cara dan langkah yang baik. Mereka
mempertaruhkan daya, tenaga, dan dana untuk mendapatkan nilai tambah bagi
kehadirannya dalam hidup bersama di dunia ini. Mereka berharap agar dalam masa
dewasanya dicapainya kenikmatan yang lebih tinggi kadanya ketimbang yang tidak
menempuh kehidupan sebagai pelajar/mahasiswa.
E.
Perjaka/gadis yang memasuki periode perkembangan jasmani dan rohani
tertentu. Hamper semua aktifitas perjaka/gadis itu diorientasikan untuk
menciptakan kebaikan suasana pada perjumpaan dengan kekasihnya. Meskipun dalam
perjalanan untuk menciptakan suasana yang serba menyenangkan itu tidak kecil
kemungkinannya dijumpai ha-hal yang “menyakitkan” yang menyebabkan timbulnya
penderitaan.
2. Nilai-nilai budaya sebagai tolak ukur
harapan
Dalam hasil sastra jawa, misalnya terdapat nilai
budaya yang meliputi:
A.Nilai kejuangan dan semangat pengorbanan
B.Nilai-nilai kerumahtanggaan dan
C.Nilai-nilai kemandirian kaum wanita.
Karya-karya yang memuat nilai-nilai kejuangan di
antaranya adalah serat sewaka, serat wirawiyata, serat panitipraja, serat
piwulang bejik, serat margawireja, dan serat wedhawara. Yang berkaitan dengan
nilai-nilai kerumahtanggaan misalnya: serat panitibaya, dan serat yajnyasusila.
Sedangkan yang bertalian dengan nilai kemandirian kaum wanita adalah serat
warayagnya, dan serat rajabrana. Nilai
kejuangan yang dijadikan tolak ukur dan selanjutnya diharapkan agar dimiliki
oleh calon warga masyarakat di antaranya:
A.Kesetiaan
B.Kesungguhan
C.Pengutamaan untuk mengabdi pada tugas
D.Pemberian nilai kepada setiap jenis pekerjaan
E. Disiplin, dan
F.Watak pejuang.
Nilai-nilai kerumahtanggaan yang diharapkan
berkembang di dalam setiap keluarga adalah:
A.Dibentuk melalui proses pernikahan menurut agama
B.Hubungan suami dan isteri yang berdasarkan cinta
kasih
C.Jati diri suami berdasarkan watak yang baik, benar
dan mantap
D.Jati diri isteri berdasarkan watak yang baik,
benar dan mantap
E.Hubungan antara orang tua dan anak menurut
kewajiban dan hak masing-masing, dan
F. Pembinaan keluarga kearah kehidupan yang
sejahtera dan bahagia.Adapun nilai-nilai kemandirian kaum wanita yang
diharapkan dapat oleh setiap individu wanita adalah yang bertalian dengan
sifat-sifat sebagai berikut:
A.Kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas,
dengan penuh konsentrasi, dan tekun
B.Hemat dan mampu merawat, tidak menggunakan
kata-kata lekoh dalam berkomunikasi, setiap tindakan harus berdasarkan rencana
yang matang dan cermat, menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia, dan
senantiasa berusaha mendudukan setiap masalah pada proporsi dengan tepat, serta
dapat melandasi setiap perilakunya dengan penuh berwatak pandai memelihara dan
menjaga sesuatu yang harus dipertanggung-jawabkan.
C.Tidak lengah dan dapat mengatur pengelolaan rumah
tangganya
D.Dengan cepat dapat menyelesaikan pekerjaan,
terampil, segera memulai pekerjaan yang diserahkan kepadanya, tidak ragu-ragu
dalam menyelesaikan tugas
E.Penuh konsentrasi dan teguh dalam pendirian, serta
penuh prakarsa, dan
F.Bersemangat dan tidak mengenal putus asa
Nilai-nilai kejuangan, kerumahtanggaan, dan kemandirian
kaum wanita yang diharapkan dalam kebudayaan tersebut, di dalam hasil sastra
jawa diberi istilah sebagai berikut:
1.Mantep, tenan, taberi (mantap, serius, tekun)
2.Patitis (telita, cermat)
3.Satuhu (setia)
4.Nasiti, ngati-ati, merak ati (berencana,
berhati-hati, manarik)
5.Mawa denga lawan watara (penuh perhitungan)
6.Mantep suci ing kalbu (mantap dan berhati suci)
7.Den watak amba, den gedhe pengapurane (sabar dan
pemaaf)
8.Basanira den manis arum (berbahasa dengan baik)
9.Wajib anggulan semedi lang enget kang sampun dadi
tuladha (wajib menunaikan ibadah dan senantiasa mengacu kepada tokoh teladan)
10. Pratikele
wong akrami among ati pawitane (pranata keluarga yang dibangun dengan
perkawinan hanya bermodal niat iktikad, cipta, rasa, dan karsa)
11. Bobot,
bebet, bibit, warna, brana, wibawa, pambeka, yogyane kawikana sebagai landasan
pemilihan jodoh (sebaiknya memenuhi syarat: berpengetahuan, berkelakuan baik,
sehat jasmaniah, dan rohaniah, berparas baik, bernafkah, dihormati dan
berkarakter)
12. Sregep,
pethel, tegen, wekel, penagti-ati sebagai syarat untuk melestarikan rumah
tangga (rajin berkerja, tidak menjadi
sumber kemarahan, memberikan kepuasan pihak yang berhak memimpin dan memberi
amanat dapat dipercya, senantiasa menghindarkan diri dari kesalahan)
13. Aja
kereng drengki lan cengkiling, an aja ngrusak barang (hindarkan tabiat pemarah,
cemburuan, dan suka memukul, dan janganlah merusak barang milik)
14. Tumrap
kakung: teguh, tanggon, tanggup (bagi pria: berbadan sehat dan suka bekerja
keras/berat, tidak mudah terpengaruh/gugup/emosi, dapat bertindak sebagai
pelindung)
15. Tumrap
pawestri: merak, ati, gumati, luluh (bagi wanita/isteri: rapi/bersih, bekerja
dengan penuh konsentrasi, tekun dan tuntas arif sebagai pendidik)
16. Tmrap
anak: wedi trusing ati marang wong tuwane, serta marang gurune, ora madal
parentah lan mumpung kara, ora nyatur bapa buyung lan ngalem awaki dhewe (bagi
anak: dengan ikhlas mentaati orang tua, gurunya, tidak membantah/menolak nasihat
tetapi jika memang ada hal-hal yang tidak disetujui disampaikan apabila
terbukti bahwa nasihat tersebut ternyata tidak benar, dan tidak mempergunjing
ayah dan ibunya memuji kebaikan dirinya)
17. Gelaring
pembudi nut ing jaman kelakone, rigen, gemi, nastiti, weruh etung, taberi
tetanya, nyegah kayun, nemen ing seja, aja tuman utang silih, luwih lara
laraning ati ora kaya wong tininggal arta kang wis ilang piyandele, lipure mung
yen turu, lamun tangi sungkawa malih (dapat menyesuaikan diri, mampu menyelesaikan
tugas/pekerjaan dengan baik dan hingga berhasil. Hemat, cermat, tahu akan
perhitungan, rajin bertanya untuk menambah pengetahuan, mencegah kehendak yang
menjurus kepada pengorbanan nafsu, bersungguh-sungguh dalam mencapai cita-cita,
tidak membiasakan berhutang yang berakibatkan menjauhkan ketentraman.
3. Makna Harapan
Harapan berasal dari kata harap artinya keinginan
supaya sesuatu terjadi. Yang mempunyai harapan/keinginan itu hati. Putus
harapan berarti putus asa. Untuk mewujudkan harapan itu harus disertai usaha
sesuai dengan apa yang diharapkan. Meskipun sudah berusaha keras pun
kadang-kadang harapan itu belum tentu terwujud. Misalnya, apakah budi pasti
dapat nilai A, belum tentu. Apakah pasti hasil yang diperoleh mang udin kelak
sesuai dengan harapannya, juga belum pasti. Tuhanlah yang menentukan. Manusia
sekadar berusaha. Harapan artinya keinginan yang belum terwujud. Setiap orang
mempunyai harapan. Tanpa harapan manusia tidak ada artinya sebagai manusia.
Manusia yang tak mempunyai harapan berarti tak dapat diharapkan lagi. Menurut
kodratnya dalam diri manusia ada dorongan, yakni dorong kodrat dan dorongan
hidup. Dorongan kodrat itu ialah menangis, tertawa, berpikir, berkata,
bercinta, dan mempunyai keturunan. Kebutuhan hidup ialah kebutuhan jasmani dan
rohani. Kebutuhan jasmani ialah pangan, sandang, dan papan sedangkan kebutuhan
rohani meliputi kebahagiaan, kesejahteraan, kepuasan, dan hiburan. Dalam
mencukupi kebutuhan itu baik kebutuhan kodrat maupun kebutuhan hidup manusia
tidak dapat mencapai sendiri, melainkan harus dengan bantuan orang lain. Lima
macam kebutuhan manusia itu ialah:
1.Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup
2.Harapan untuk memperoleh keamanan
3.Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk
mencintai
4.Harapan memperoleh status/untuk diterima/diakui
lingkungan
5.Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita
4. Makna Kepercayaan
Kepercayaan berasal dari kata percaya artinya
mengakui/meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan
dengan pengakuan/keyakinan akan kebenaran. Ada ucapan yang sering kita dengar:
1.Ia tidak percaya pada diri sendiri
2.Saya tidap percaya ia berbuat seperti itu/berita
itu kurang dapat dipercaya akan kebenarannya
3.Kita harus percaya akan nasihat-nasihat kiai itu,
karena nasihat-nasihat iyu diambil dari ajaran Al-Quran
Dasar kepercayaan itu adalah kebenaran. Ada jeis
pengetahuan yang dimiliki seseorang, bukan karena merupakan hasil penyelidikan
sendiri, melainkan diterima oleh orang lain. Kebenaran pengetahuan yang
didasarkan atas orang lain itu dapat dipercaya. Yang diselidiki bukan lagi
masalahnya, melainkan orang yang memberitahukan itu dapat dipercaya/tidak.
Pengetahuan yang diterima dari orang lain atas kewibawaannya itu disebut kepercayaan.
Makin besar kewibawaan yang member tahu mengenai pengetahuan itu makin besar
kepercayaannya. Jika tidak ada persesuaian antara putusan dan obyeknya yang
diketahui, maka ada dua kemungkinan:
1.Orang yang mengutarakan putusan itu keliru
2.Orang yang mengutarakan itu sengaja mengatakan
yang tidak sesuai dengan realitas yang diketahuinya dan karenanya juga tidak
sesuai dengan keyakinannya.adapun tindakan itu disebut bohong/dusta.
Kekeliruan adalah
bukan obyek etika dank arena kekeliruan orang tidak dianggap buruk, lain
halnya berdusta/bohong adalah tindakan etis yang buruk. Jelas kebenaran/tidak
kebenaran itu timbul dari manusia. Berbagai kepercayaan dan usaha
meningkatkannya kepercayaan dapat dibedakan atas:
1.Kepercayaan pada diri sendiri
Perlu ditanamkan dalam setiap pribadi manusia.
Percaya pada diri sendiri pada hakikatnya percaya pada Tuhan yang maha esa.
Percaya pada diri sendiri, menganggap dirinya tidak salah, dirinya menang,
dirinya mampu mengerjakan yang diserahkan/dipercayakan kepadanya.
2.Kepercayaan pada orang lain
Percaya pada orang lain itu dapat berupa percaya
kepada saudara, orang tua, guru, atau siapa saja. Kepercayaan kepada orang lain
itu sudah tentu percaya terhadap kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan
kata hati/terhadap kebenarannya.
3.Kepercayaan kepada pemerintah
Berdasarkan pandangan theokratis menurut buku etika
filsafat tingkah laku karya Prof. I.R. Poedjawiyatna, Negara itu berasal dari
Tuhan. Tuhan langsung memimpin dan memerintah bangsa manusia/setidaknya Tuhan
adalah pemilik kedaulatan sejati, karena semua adalah ciptaan Tuhan. Semua
pengemban kewibawaan, terutama pengemban tertinggi yaitu raja, langsung
dikaruniai kewibawaan oleh Tuhan, sebab langsung dipilih oleh Tuhan pula
(kerajaan). Pandangan demokratis mengatakan bahwa kedaulatan adalah dari rakyat
(kewibawaan pun dari rakyat. Rakyat adalah Negara, rakyat itu menjelma pada
Negara. Satu-satunya realitas adalah Negara). Manusia sebagai seorang individu
tak berarti. Orang mempunyai arti hanya dalam masyarakat, Negara. Hanya
negaradalam keutuhan yang ada, kedaulatan mutlak pada Negara, Negara demikian
itu di sebut Negara totaliter.
4.Kepercayaan kepada Tuhan
Kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa itu sangat
penting, karena keberadaan manusia itu bukan dengan sendirinya, tetapi
diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan
kebenaran. Kepercauaan itu sangat penting, karena merupakan tali kuat yang
dapat menghubungkan rasa manusia dengan Tuhannya. Berbagai usaha dilakukan
manusia untuk meningkatkan rasa percaya kepada Tuhannya. Usaha itu tergantung kepada pribadi, kondisi, situasi
dan lingkungan. Usaha itu anatara lain:
A. Meningkatkan ketakwaan kita dengan jalan
meningkatkan ibadah kita
B.
Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat
C.
Meningkatkan kecintaan kita kepada sesame manusia dengan jalan suka
menolong, dan dermawan,
D. Mengurangi nafsu pengumpulan harta yang
berlebihan
E. Menekan
perasaan negatif seperti iri, dengki, dan fitnah.
sumber : buku ilmu budaya dasar. Drs. Joko Tri
Prasetya,dkk
Komentar
Posting Komentar